Tampilkan postingan dengan label Anak Mami Berdikari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Mami Berdikari. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

Metodelogi Penelitian Komunikasi



PROPOSAL
 NILAI – NILAI KEISLAMAN  TAYANGAN AZAN MAGRIB
(Semiotika dalam Tayangan Azan Magrib pada Televisi Lokal
Duta Tv Banjarmasin)

Untuk Memenuhi Mata Kuliah Metodelogi Penelitian Komunikasi  
MPB - 502
 

OLEH :
NAMA : MUHAMMAD GHALIH
NIM : D1C110038

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
BANJARMASIN
2013

Minggu, 03 Maret 2013

Honda C70

My Honda C70

Ini motor yang bikin siapapun yang memakainya bakalan kelihatan kece,.. Hahahahaha,...

Walaupun udah tua tapi masih terlihat bergaya,.. Karna tuntutan globalisasi jadinya ya gini deh,.. Padahal sayang juga menghilangkan sisi ke orisinilan ni motor,.. Tapi apa mau di kata,..hmmmmmm,..


Minggu, 28 Oktober 2012

CURRICULUM VITAE


CURRICULUM VITAE
Profile
Lahir di Palangkaraya, 08 Oktober 1992. Menamatkan SMA di SMAN 1 Pelaihari, pada tahun 2010. Selama pendidikan di Pelaihari aktif dalam berbagai organisasi pelajar dan organisasi  - oragnisasi lainnya ( Pengurus Organisasi Intra Sekolah SMAN 1 Pelaihari 2008 – 2009), Pengurus Community Motor Ceper Pelaihari, Anggota Wadah Sapida Tuha Tanah Laut,  Anggota Sepak Takraw Kihajar Dewantara,  Pengurus Karang Taruna Angsau.
Sekarang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi. Selama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi telah aktif dalam organisasi dan sekarang menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2011 – 2012 serta Ketua Beswan Djarum DSO Banjarmasin.

Minggu, 16 September 2012

CINTA KITA

Becak Cinta

CINTA KITA



jangan dengarkan orang bicara

jangan ikuti orang mengarah
mereka cuma sirik sama kita


Kamis, 09 Februari 2012

ETIKA PERIKLANAN

Etika?
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (KBBI)
Ciri-ciri iklan yang baik
  • Etis: berkaitan dengan kepantasan.
  • Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
  • Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
ETIKA SECARA UMUM
  • Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
  • Tidak memicu konflik SARA
  • Tidak mengandung pornografi
  • Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
  • Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
  • Tidak plagiat

Ciri-ciri iklan yang baik
·         Etis: berkaitan dengan kepantasan.
·         Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
·         Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
Contoh Penerapan Etika
·         Iklan rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok.
·         Iklan pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
·         Iklan sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara utuh.
ETIKA SECARA UMUM
·         Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
·         Tidak memicu konflik SARA
·         Tidak mengandung pornografi
·         Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
·         Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
·         Tidak plagiat
ETIKA PARIWARA INDONESIA (EPI)
(Disepakati Organisasi Periklanan dan Media Massa, 2005). Berikut ini kutipan beberapa etika periklanan yang terdapat dalam kitab EPI.
Tata Krama Isi Iklan
1. Hak Cipta: Penggunaan materi yang bukan milik sendiri, harus atas ijin tertulis dari pemilik atau pemegang merek yang sah.
2. Bahasa: (a) Iklan harus disajikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak sasarannya, dan tidak menggunakan persandian (enkripsi) yang dapat menimbulkan penafsiran selain dari yang dimaksudkan oleh perancang pesan iklan tersebut. (b) Tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”, “nomor satu”, ”top”, atau kata-kata berawalan “ter“. (c) Penggunaan kata ”100%”, ”murni”, ”asli” untuk menyatakan sesuatu kandungan harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik. (d) Penggunaan kata ”halal” dalam iklan hanya dapat dilakukan oleh produk-produk yang sudah memperoleh sertifikat resmi dari Majelis Ulama Indonesia, atau lembaga yang berwenang.
3. Tanda Asteris (*): (a) Tanda asteris tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan, menyesatkan, membingungkan atau membohongi khalayak tentang kualitas, kinerja, atau harga sebenarnya dari produk yang diiklankan, ataupun tentang ketidaktersediaan sesuatu produk. (b) Tanda asteris hanya boleh digunakan untuk memberi penjelasan lebih rinci atau sumber dari sesuatu pernyataan yang bertanda tersebut.
4. Penggunaan Kata ”Satu-satunya”: Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata “satusatunya” atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menyebutkan dalam hal apa produk tersebut menjadi yang satu-satunya dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.
5. Pemakaian Kata “Gratis”: Kata “gratis” atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. Biaya pengiriman yang dikenakan kepada konsumen juga harus dicantumkan dengan jelas.
6. Pencantum Harga: Jika harga sesuatu produk dicantumkan dalam iklan, maka ia harus ditampakkan dengan jelas, sehingga konsumen mengetahui apa yang akan diperolehnya dengan harga tersebut.
7. Garansi: Jika suatu iklan mencantumkan garansi atau jaminan atas mutu suatu produk, maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggung- jawabkan.
8. Janji Pengembalian Uang (warranty): (a) Syarat-syarat pengembalian uang tersebut harus dinyatakan secara jelas dan lengkap, antara lain jenis kerusakan atau kekurangan yang dijamin, dan jangka waktu berlakunya pengembalian uang. (b) Pengiklan wajib mengembalikan uang konsumen sesuai janji yang telah diiklankannya.
9. Rasa Takut dan Takhayul: Iklan tidak boleh menimbulkan atau mempermainkan rasa takut, maupun memanfaatkan kepercayaan orang terhadap takhayul, kecuali untuk tujuan positif.
10. Kekerasan: Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung -menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan.
11. Keselamatan: Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengabaikan segi-segi keselamatan, utamanya jika ia tidak berkaitan dengan produk yang diiklankan.
12. Perlindungan Hak-hak Pribadi: Iklan tidak boleh menampilkan atau melibatkan seseorang tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari yang bersangkutan, kecuali dalam penampilan yang bersifat massal, atau sekadar sebagai latar, sepanjang penampilan tersebut tidak merugikan yang bersangkutan.
13. Hiperbolisasi: Boleh dilakukan sepanjang ia semata-mata dimaksudkan sebagai penarik perhatian atau humor yang secara sangat jelas berlebihan atau tidak masuk akal, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari khalayak yang disasarnya.
14. Waktu Tenggang (elapse time): Iklan yang menampilkan adegan hasil atau efek dari penggunaan produk dalam jangka waktu tertentu, harus jelas mengungkapkan memadainya rentang waktu tersebut.
15. Penampilan Pangan: Iklan tidak boleh menampilkan penyia-nyiaan, pemborosan, atau perlakuan yang tidak pantas lain terhadap makanan atau minuman.
16. Penampilan Uang: (a) Penampilan dan perlakuan terhadap uang dalam iklan haruslah sesuai dengan norma-norma kepatutan, dalam pengertian tidak mengesankan pemujaan ataupun pelecehan yang berlebihan. (b) Iklan tidak boleh menampilkan uang sedemikian rupa sehingga merangsang orang untuk memperolehnya dengan cara-cara yang tidak sah. (c) Iklan pada media cetak tidak boleh menampilkan uang dalam format frontal dan skala 1:1, berwarna ataupun hitam-putih. (d) Penampilan uang pada media visual harus disertai dengan tanda “specimen” yang dapat terlihat Jelas.
17. Kesaksian Konsumen (testimony): (a) Pemberian kesaksian hanya dapat dilakukan atas nama perorangan, bukan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas. (b) Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami, tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya. (c) Kesaksian konsumen harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditanda tangani oleh konsumen tersebut. (d) Identitas dan alamat pemberi kesaksian jika diminta oleh lembaga penegak etika, harus dapat diberikan secara lengkap. Pemberi kesaksian pun harus dapat dihubungi pada hari dan jam kantor biasa.
18. Anjuran (endorsement): (a) Pernyataan, klaim atau janji yang diberikan harus terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh penganjur. (b) Pemberian anjuran hanya dapat dilakukan oleh individu, tidak diperbolehkan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas.
19. Perbandingan: (a) Perbandingan langsung dapat dilakukan, namun hanya terhadap aspek-aspek teknis produk, dan dengan kriteria yang tepat sama. (b) Jika perbandingan langsung menampilkan data riset, maka metodologi, sumber dan waktu penelitiannya harus diungkapkan secara jelas. Pengggunaan data riset tersebut harus sudah memperoleh persetujuan atau verifikasi dari organisasi penyelenggara riset tersebut. (c) Perbandingan tak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan khalayak.
20. Perbandingan Harga: Hanya dapat dilakukan terhadap efisiensi dan kemanfaatan penggunaan produk, dan harus diserta dengan penjelasan atau penalaran yang memadai.
21. Merendahkan: Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.
22. Peniruan: (a)  Iklan tidak boleh dengan sengaja meniru iklan produk pesaing sedemikian rupa sehingga dapat merendahkan produk pesaing, ataupun menyesatkan atau membingungkan khalayak. Peniruan tersebut meliputi baik ide dasar, konsep atau alur cerita, setting, komposisi musik maupun eksekusi. Dalam pengertian eksekusi termasuk model, kemasan, bentuk merek, logo, judul atau subjudul, slogan, komposisi huruf dan gambar, komposisi musik baik melodi maupun lirik, ikon atau atribut khas lain, dan properti. (b) Iklan tidak boleh meniru ikon atau atribut khas yang telah lebih dulu digunakan oleh sesuatu iklan produk pesaing dan masih digunakan hingga kurun dua tahun terakhir.
23. Istilah Ilmiah dan Statistik: Iklan tidak boleh menyalahgunakan istilah-istilah ilmiah dan statistik untuk menyesatkan khalayak, atau menciptakan kesan yang berlebihan.
24. Ketiadaan Produk: Iklan hanya boleh dimediakan jika telah ada kepastian tentang tersedianya produk yang diiklankan tersebut.
25. Ketaktersediaan Hadiah: Iklan tidak boleh menyatakan “selama persediaan masih ada” atau kata-kata lain yang bermakna sama.
26. Pornografi dan Pornoaksi: Iklan tidak boleh mengeksploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apa pun, dan untuk tujuan atau alasan apa pun.
27. Khalayak Anak-anak: (a) Iklan yang ditujukan kepada khalayak anakanak tidak boleh menampilkan hal-hal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, kekurangpengalaman, atau kepolosan mereka. (b) Film iklan yang ditujukan kepada, atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anakanak dan menampilkan adegan kekerasan, aktivitas seksual, bahasa yang tidak pantas, dan atau dialog yang sulit wajib mencantumkan kata-kata “BimbinganOrangtua” atau simbol yang bermakna sama.

MEDIA RELATIONS


Media relations takes several forms in most companies, ranging from publicity to crisis
management.  It can include investor relations as well, particularly at smaller companies. 
While large companies have positions dedicated exclusively to media relations, this is not
always the case at smaller companies, where the responsibility is part of another
executive’s duties. Even if there is a media relations group, every executive and manager
has a degree of media relations responsibility at all times, and at certain times can be at
the center of a media relations campaign or crisis.  For this reason, it is good for all
executives and managers to know how to do good media relations.
The Typical Scenario
In most cases, a company’s media relations activities are managed through a public
relations, external affairs or communications department. Within this group, there is
one person who handles all inquiries from the press, and manages all efforts to gain
attention from the press for positive news stories or publicity on behalf of the company. 
This person is most often called the director of media relations, and he/she is usually the
spokesperson for the company as well.
While this person handles routine queries (quarterly results, questions about press
releases, etc.), there are others who can and will speak to the press in specific
circumstances.  These occurrences can be positive (record profits, successful product
introductions, a beneficial merger) or negative (layoffs, failed product, stockholder
lawsuits).  These people will be selected, coached and coordinated by the director of
media relations and the head of the department.  Good media relations means the
company can maximize the positive effects of news coverage and minimize the damage
from negative news coverage.
Accomplishing this requires:
A Close Relationship with the CEO—The person responsible for media relations must
have a good working relationship with the CEO, or report to someone who does.  In most
companies, the only way to know what is going to happen ahead of time is to find out
from the CEO.  Fortunately, the CEO typically has a VERY deep interest in how she/he,
her/his management team, and the company look in the newspapers, so that kind of
relationship usually comes with the territory.
Good Working Relationships with the Management Team—The person in charge of
media relations will be coaching senior management in what they say, and
recommending stories to them that will require their participation.  In addition, media training is important for those who will deal with the media on a regular basis, or who
MUST deal with the media during a crisis.  An atmosphere of trust between the director
of media relations and senior managers is vital, particularly when third parties (media
training, PR companies) become part of any campaign.
Good Relationships with the Press—Whether it is local press, national press, industry
press, or all three that matter to the company, the director of media relations must have
the knowledge of who writes what for whom, what they have written in the past, and how
to contact them.  Knowing who covers what at a paper is partly just a matter of courtesy,
and partly a vital component of the company’s credibility with reporters.  Subscription
services provide the most up to date listings of reporters, with addresses and phone
numbers, and that’s a good start.  But it is up to the director of media relations to build
that information into a relationship.  Frequent contact is the best insurance, particularly
since reporters change assignments and even jobs with some regularity.
So, being in touch directly or indirectly with the CEO, having positive interactions with
the management team, knowing where to go within the company to get the information
reporters seek, and knowing the reporters who cover the company on a regular basis
means media relations are in pretty good shape.  If there is something positive and
newsworthy going on, the right person knows about it, knows whom to get the
information from, knows who to consider for an interview, and knows whom to call
about the story.
So much for the “good news” part of media relations.  What about when the news is bad?
Crisis Management
Reporters have the same reaction to bad news that sharks have to blood in the water—
they begin a feeding frenzy. A pleasant walk to the office can change into a nightmare
very quickly when someone responsible for media relations turns a corner to see half a
dozen satellite uplinks, a swarm of people with microphones, tape recorders and
notepads, and a lot of hungry looks whenever a bigwig from the company is spotted.  60
Minutes is a very real thing, and it must dine on something every week, but local stations
and newspapers can spoil a media relations person’s whole day just as quickly.
OK, that nightmare is the result of not knowing enough about what was going on.  What
can media relations do when it DOES know what is going on?
The reason it is called “crisis management” is because there are ways of handling even
the worst events.  There is no escape, but following the guidelines below can minimize
the intensity and the duration of the pain for the company, the managers, and the
stockholders.
Talk to EVERYONE involved—The first thing media relations people do is gather
information necessary to assess the multiple levels at which damage could occur.  Later,
this information will be used in framing the company’s response, but it is used immediately to determine how wide and deep the damage is or will be.  What will this
news do to sales?  Will it have an effect on ongoing negotiations?  What will be the
reactions of stockholders and analysts who cover the company?  The aim is to construct a
response that acknowledges the mistakes that have been made—ALL OF THEM—and
which lays the foundation for the rebuilding process.
Get the Truth Out—Getting the truth from the people within the company is difficult. 
Asking tough questions can bring out paranoia in colleagues.  But getting the truth out
there, in the public arena, is an important step in recovery.  And the acknowledgement
must be complete. There will be resistance to this from every quarter, but once the
process begins, there can be no nasty surprises, because these are what sustain and widen
the media frenzy.  The goal is to build credibility during a period when many angry
people do not want to believe a thing the company says, so there can be no further
negative revelations that undercut what has been said.  This is NOT the time to say
anything positive about the company—that comes later.
Framing the Response—The writer of the response (which will take the form of a press
release and/or a press conference) ties every admission to the image of the company that
he/she hopes will emerge.  When the company spokesperson says, “We did not tell the
truth,” there is the implied message that the company did tell the truth in the past, and
that principle will again guide it in the future.  Every lie, mistake, or whatever is aberrant
will be corrected.  The admission does not try to make this point immediately, but rather
it sets the stage for a new company structure.  Bit by bit, good media relations moves the
company as a whole and most of the employees AWAY from blame and away from
involvement in the problem.
Talking Points--Once the response is drafted, it must be approved by the CEO and by
senior management.  When this approval is granted, the next step is to prepare talking
points. The talking points keep everyone who talks to the media consistent in their
responses (“on message”), and helps the company “speak with one voice” in much the
way it does when there is a single spokesperson.  Having senior managers contradicting
each other in the paper or on TV is disastrous during a crisis
Internal Announcement—This message for employees contains the same information
as was in the press release/press conference.  It addresses employees as a specific
audience and can ask for their continued trust.  Nonetheless, the internal release must be
written as if it were public, because all it takes is one employee and a fax machine to
MAKE it public. The internal announcement should coincide with the press release or
the press conference. Vendors and customers should receive explanatory letters from the
company, too.
Working the Story—It is not too late to get media training for those who will have to
interview with the media.  PR firms like Edelman Worldwide and Hill & Knowlton offer
such training, and it is worth seeking. They also offer crisis management services, and
they should be considered if the crisis extends beyond the company’s locality, or if the
company needs help/expertise beyond it own capabilities.  For example, if the company does not do government relations on an ongoing basis, but the crisis demands that it have
the support of elected officials, it should hire a good PR company.
Media relations should offer only trained/effective people for interviews.  If the CEO is
good at this, they should use him/her: if not, they should NOT. They should be sure,
however, that the CEO agrees with each interview proposed, and he/she is aware of when
they take place. That goes for senior management, too.  They do not need any more
surprises either.
Media relations must be absolutely sure that everyone knows that the ONLY answer to a
question they don’t know the answer to is “I don’t know,” followed by “Let me find out
and get back to you later.” Credibility is the name of the game at this point.
Media relations staff should sit in on all interviews.  This will help the interviewee and
will put the reporter in the minority.  If necessary, media relations should redirect the
interview to the issue at hand.  Some reporters will try to use interviews as “scavenger
hunts” to find new issues to bring up, and it is in the company’s interest to stop this
process.
The Rebuilding Process—Media relations should be alert for the point at which the
crisis, which has kept building, now begins to subside.  This is the signal to begin the
rebuilding process. Signs to look for are stories that grudgingly give the company credit
for honesty, or which note that no more negatives have emerged since the original
admissions.  This is when to start thinking about a “morning after” story about what the
company is doing differently now than it did before, how the company is moving toward
a brighter future, etc. If anyone responsible for media relations can even THINK about
this, the crisis is over!
It is good for executives to put themselves in the role of the media relations executive
even if that is never their primary responsibility, because it is always PART of their
responsibility. Media opportunities and media crises come without warning, and the only
way to deal with them is to be prepared ahead of time.  The more responsible the position
is within a company, the greater the responsibility is to anticipate the needs of media
relations. In addition, small entrepreneurial companies don’t have directors of media
relations anyway—they have publicity people at best—so an executive may get the job
whether he or she wants it or not!

Rabu, 21 Desember 2011

Hadirmu Bagaikan Hujan yang Mebasahi Kemarau Panjang



Pelaihari, 17 Agustus 2011 telah lahir dengan selamat seorang bayi dari rahim Mama ku, dengan berat 53kg dan panjang 41cm. Tangisan pertamanya membuat tubuhku bergetar mendengar kebesaran Allah, sungguh aku bersyukur memiliki seorang adik lagi. Tapi kebahagiaan ku berubah setelah aku mendengar pembicaraan antara Dokter dan Abah, Mama harus dirujuk ke RSU. ULIN BANJARMASIN di karenakan di RSU. H. BOEJADSIN PELAIHARI ruang ICU penuh semua, ternyata sehabis oprasi Mama mengalami darah tinggi, tanpa pikir panjang Abah langsung menyetujui saran Dokter tersebut, meskipun Mama bilang tidak usah karna merasa masih kuat. Abah langsung berbicara padaku," Ghalih, Abah mau megantar Mama ke RSU. ULIN jadi Ghalih tinggal saja disini jagain Adik kecil ", dengan senyuman manis seolah menyuruh ku untuk tidak usah khawatir , dan akupun menganguk seraya berkata iya. Kurang lebih lima hari Mama dirawat akhirnya bisa pulang, setelah itu kami bersama-sama menjemput adik kecil ku. Dia tampak nyaman berada di dalam tabung Regulator atau apalah namanya aku kurang paham, waktu itu Dokter masih belum membolehkan adik kecil ku pulang dikarenakan kondisinya masih sangat lemah dan dia juga masih belum bisa minum. Kami terpaksa bersabar dan menunda keinginan kami untuk membawa adik kecil ku pulang. Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba juga, adik kecil ku di perbolehkan untuk pulang, kamipun segera membawanya pulang setelah menyelesaikan registrasi di rumah sakit. Setibanya di rumah aku dan Abah berbincang-bincang mengenai nama apa yang pantas buat adik kecilku tersebut, kata Abah terserah Ghalih maunya nama adik kecil apa, tentunya ini menjadi satu kepercayaan bagi ku karna diperbolehkan memberi nama adik kecil ku, karena lahir di bulan suci Ramadhan aku langsung punya ide untuk memberi namanya Ramadhan , tapi di karenakan keluarga ku cinta dengan Nabi Muhammad jadi semua anak Abah harus ada Muhammad di namanya biar ketularan sifat-sifat mulia beliau kata Abah, aku rasa sangat bagus kalau di depannya di tambahakan Muhammad dan di sambung dengtan Ramadhan jadinya Muhammad Ramadhan, tetapi rasanya masih kurang mengingat kelahiran adik ku tersebut sangat spesial menurutku jadinya aku tambahkan Absi di belakang namnya yang artinya orang yang ahli Al-Qur'an, Abah sangat setuju sekali dengan saran ku tersebut jadi namanya adik kecil adalah Muhammad Ramadhan Absi dsn di panggil Rama, keren juga Rama kaya tokoh wayang. Akhirnya di adakan acara pemberian nama adik kecil (Tasmiyah dan Aqiqah) karena laki-laki jadi di potong dua ekor kambing, waktu pemberian nama berlangsung semua keluarga ku yang berada di Kota Barabai dan yang lainnya datang untuk meramaikan acara tersebut, belum lagi tamu-tamu undangan yang lain menambah keramaian acara tersebut. Sebulan lebih setelah acara tersebut akhirnya Rama sudah bisa diajak bercanda dan adik ku yang bernama Riski sangat senang untuk mengajaknya bermain, serasa lengkap sekali bila kami bisa berkumpul bertiga seakan kami bisa menaklukan dunia kalau bersama-sama hahahaha… besar harapan ku agar kelak ketika besar si Rama bisa menjadi seperti yang kami harapkan, oleh karena itu aku bilang kepada adik ku Riski untuk menjadi contoh yang baik bagi adiknya Rama.Besok adalah Hari Ibu, Mama kami bertiga mengucapkan "SELAMAT HARI IBU", buat Mama, lebih sabar lagi ya buat mengasuh dan membimbing kami biar kelak kami besar menjadi manusia yang berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama. AMIN .......
LOVE YOU MOM